Jakarta, 18 September 2026. Doktor dari Universitas Indonesia, Amal Rezka Putra, mengembangkan nanopartikel berbasis rimpang tanaman bangle (Zingiber montanum) yang dipadukan dengan emas radioaktif untuk kandidat terapi kanker. Teknologi tersebut menggabungkan terapi fototermal dan terapi radionuklida dalam satu material.

Riset tersebut memanfaatkan senyawa fitokimia dalam bangle untuk membantu sintesis nanopartikel. “Bangle itu memiliki senyawa fitokimia yang berfungsi sebagai bioreduktor,” kata Amal dalam Webinar HIMNI ke-28 bertajuk “Bangle Melawan Kanker, Ketika Kekayaan Hayati Indonesia Bertemu Nanoteknologi”, Kamis (17/9/2026).

Ia menjelaskan senyawa dalam rimpang bangle dapat berperan sebagai capping agent yang melapisi dan menstabilkan nanopartikel sehingga tidak mudah mengalami agregasi (tidak terkumpul). Bangle mengandung senyawa fitokimia, yakni fenolik dan terpenoid, yang memiliki aktivitas antioksidan serta bioaktivitas.

Pemanfaatan bangle tersebut menjadi bagian dari pendekatan green synthesis, yaitu menggunakan ekstrak biologis sebagai agen pereduksi dan penstabil dalam pembuatan nanopartikel. Menurut Amal, pendekatan ini berpotensi mengurangi penggunaan bahan berbahaya.

“Meskipun, green synthesis tidak otomatis aman atau bebas bahan kimia, produk akhir tetap harus diuji kemurnian, stabilitas, toksisitas, dan reproduksibilitasnya,” tambahnya.

Dalam riset tersebut, ekstrak bangle digunakan dalam sintesis nanopartikel magnetik besi oksida atau Fe₃O₄. Material tersebut kemudian dipadukan dengan emas membentuk struktur core-shell Fe₃O₄@Au.

“Fe₃O₄ memiliki sifat magnetik yang berpotensi dimanfaatkan untuk pencitraan MRI dan magnetic hyperthermia. Sementara itu, emas memiliki sifat surface plasmon resonance yang memungkinkan energi cahaya dikonversi menjadi panas ketika nanopartikel disinari laser,” paparnya.

Material tersebut kemudian dipadukan dengan emas-198 (198Au), radioisotop yang memancarkan radiasi beta untuk terapi dan radiasi gamma yang dapat digunakan untuk pencitraan. Emas-198 dibuat dari emas-197 melalui reaksi nuklir menggunakan neutron di Reaktor Serba Guna (RSG) G.A. Siwabessy, Serpong.

Dengan kombinasi tersebut, nanopartikel dirancang sebagai platform radio-fototermal. Terapi fototermal bekerja dengan mengubah energi cahaya menjadi panas untuk meningkatkan suhu di lingkungan tumor, sedangkan radiasi beta dari emas-198 dapat merusak DNA sel kanker.

“Uniknya, nanopartikel emas ini bisa digunakan untuk terapi fototermal, bisa juga terapi radionuklida, karena emasnya itu sudah 98Au,” ujar Peneliti Pusat Riset Teknologi Radioisotop, Radiofarmaka dan Biodosimetri Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) ini.

Amal mengusulkan kombinasi tersebut sebagai terapi radio-fototermal karena memadukan dua mekanisme terapi dalam satu material.

Namun, ia menekankan pengembangan material tersebut masih menghadapi sejumlah tantangan sebelum dapat diterapkan pada manusia. Salah satunya adalah standardisasi ekstrak bangle karena kandungan fitokimia tanaman dapat berbeda berdasarkan lokasi tanaman tersebut tumbuh.

Selain itu, riset perlu melalui tahapan translasi klinis, termasuk pemenuhan fasilitas produksi sesuai standar Good Manufacturing Practice (GMP), uji klinis, serta pemenuhan regulasi terkait obat, keselamatan nuklir, dan kesehatan. Pengembangan emas-198 juga berkaitan dengan kesiapan reaktor nuklir dan peningkatan skala produksi.

“Jadi, tinggal bagaimana nanti mengintegrasikan beberapa tantangan itu agar bisa diwujudkan atau dimanfaatkan di rumah sakit,” kata Amal. (tnt)