Jakarta, 16 Oktober 2026. Founder Nuclear4Youth (N4Y), Rafi Athillah Yasin, menginisiasi gerakan literasi nuklir untuk menjembatani masyarakat umum dengan ekosistem nuklir Indonesia. Gerakan ini berupaya mengikis stigma negatif tentang nuklir melalui konten edukatif yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, sekaligus membuka ruang belajar dan kolaborasi lintas sektor.
“Tujuan kami bukan untuk mengubah yang kontra dengan nuklir menjadi pro, tetapi kami mencoba untuk mengubah persepsi dari yang tidak paham menjadi memahami teknologi nuklir itu sendiri,” kata Rafi dalam webinar spesial kolaborasi Himpunan Masyarakat Nuklir Indonesia (HIMNI) dan Nuclear4Youth bertema “Mengulik Young Nuclear4Youth: Dari Literasi Publik Hingga Sinergi Strategis Pemuda Nuklir Indonesia”, Kamis (15/10).
Menurut Rafi, masyarakat masih kerap mengasosiasikan nuklir dengan bom, pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN), dan bahaya radiasi. Padahal, pemanfaatan teknologi nuklir mencakup berbagai bidang, mulai dari medis, industri, perminyakan, pertambangan, pertanian, pangan, hingga penelitian dan lingkungan.
Pengalaman Rafi ketika melakukan survei pemahaman masyarakat saat kegiatan kuliah kerja nyata (KKN) di Pulau Bangka memperlihatkan kuatnya stigma tersebut. Padahal, teknologi nuklir memiliki beragam aplikasi yang perlu dipahami masyarakat secara lebih utuh.
“Kami mencoba untuk menjadi pintu masuk atau penghubungnya yang mengisi celah antara masyarakat umum dengan ekosistem nuklir itu sendiri,” ujarnya.
Rafi menilai, Indonesia tidak kekurangan ahli maupun organisasi yang bergerak di bidang nuklir. Namun, pengetahuan dan aktivitas di dalam ekosistem tersebut belum sepenuhnya terhubung dengan masyarakat luas. Orang yang tertarik mempelajari nuklir sering kali belum mengetahui harus mulai dari mana, termasuk pilihan pendidikan dan prospek karier di bidang tersebut.
Karena itu, Nuclear4Youth mengemas literasi nuklir melalui pendekatan yang lebih akrab bagi publik. Kontennya mengangkat mitos sehari-hari, budaya populer, serta keterkaitan nuklir dengan disiplin ilmu lain, seperti kimia.
Pertanyaan mengenai bahaya meletakkan telepon seluler di bawah bantal atau anggapan bahwa paparan radioaktif dapat membuat manusia memiliki kekuatan super menjadi pintu masuk untuk membahas konsep radiasi dan dampaknya secara ilmiah. Pendekatan ini diharapkan menarik perhatian masyarakat tanpa mengorbankan ketepatan penjelasan sains.
Rafi menekankan, penyampaian materi yang santai tetap harus berpijak pada bukti ilmiah. Melalui slogan Stay Curious, Beyond the Stigma, N4Y mendorong masyarakat untuk melampaui ketakutan yang bersumber dari asumsi dan membangun rasa ingin tahu terhadap teknologi nuklir.
Sejak mulai memublikasikan konten pada 7 Mei 2026, Nuclear4Youth mencatat lebih dari 170 ribu tayangan organik dalam sekitar 45 hari pertama di berbagai platform digital. N4Y memanfaatkan Instagram, TikTok, Facebook, dan YouTube, serta mulai mengembangkan kehadirannya di LinkedIn untuk menjangkau kalangan profesional.
Selain konten digital, N4Y mengembangkan CoreSociety, komunitas terbuka bagi masyarakat dari berbagai usia, latar pendidikan, profesi, dan tingkat pemahaman untuk belajar tentang nuklir. Komunitas ini dirancang sebagai ruang belajar dari dasar, diskusi terbuka, pengenalan jalur pendidikan, serta informasi mengenai karier di bidang nuklir.
Melalui komunitas tersebut, N4Y juga ingin mempertemukan masyarakat dengan peneliti, akademisi, dan pelaku industri nuklir. Dengan demikian, komunikasi tidak berhenti pada penyebaran informasi, tetapi berkembang menjadi kesempatan berdiskusi dan berkolaborasi.
Ke depan, Rafi berharap Nuclear4Youth dapat menjadi gerbang penghubung bagi berbagai unsur ekosistem nuklir Indonesia. Upaya ini diharapkan memperluas literasi publik sekaligus memudahkan kolaborasi antara masyarakat dan para pelaku nuklir.
“Teknologi nuklir tidak akan lepas dari masa depan manusia. Jadi, kenapa tidak dipersiapkan dari sekarang?” kata Rafi. (tnt)



