Target PLTN pertama Indonesia beroperasi pada 2032 semakin dekat. Di atas kertas, opsi teknologi terhampar luas—mulai dari Small Modular Reactor (SMR) desain Barat hingga PLTN Terapung (FNPP) Rusia yang terbukti handal beroperasi. Namun, pertanyaannya: Di tengah eskalasi geopolitik global saat ini, apakah kita benar-benar “bebas” memilih? Berlakunya regulasi sanksi internasional (termasuk dampak turunan ART 2026) telah mengubah lanskap pembangunan PLTN dunia. Keputusan memilih vendor kini tak lagi sekadar urusan teknis, harga, atau jadwal. Ini adalah manuver di tengah ranjau geopolitik yang melibatkan ancaman sanksi finansial (OFAC), blokade jaringan SWIFT, dominasi rantai pasok pengkayaan uranium, hingga risiko penyerahan kedaulatan energi dalam skema penyewaan jangka panjang.
Jangan lewatkan diskusi menarik ini

🗓️ Kamis 30 April 2026 | 16.00–17.30 WIB
🔗 Daftar: https://shorturl.at/XTUBH
Meeting ID: 843 8756 1539
Passcode: wisnubroto

Terdapat e-certificate.

Acara ini dapat pula disimak via youtube di https://shorturl.at/Bwxjy